Apartemen Samara Suites Raih Sertifikasi Bangunan Hijau EDGE

Samara Suites berhasil melakukan penghematan listrik sebesar 31%, penghematan air 35%, dan penghematan material 48%.

synthesis square - synthesis development - samara suites - EDGE - green building - anto erawan - rumahhokie - dok
Yanu Aryani, Konsultan EDGE Indonesia dan Julius Warouw, Managing Director Synthesis Development saat memberikan penjelasan kepada awak media. (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta)Samara Suites, apartemen besutan Synthesis Development mendapatkan sertifikasi EDGE (Excellence in Design for Greater Efficiencies). EDGE merupakan sertifikasi bangunan hijau yang dikeluarkan oleh IFC, anggota kelompok Bank Dunia, bekerjasama dengan Green Building Council Indonesia (GBCI).

Dengan mendapatkan sertifikasi EDGE, menunjukkan bahwa apartemen yang berada di kompleks Synthesis Square, Jalan Gatot Subroto Jakarta ini telah mengoptimalkan rancangan bangunannya sehingga efisien dalam penggunaan listrik, air, serta bahan bangunan.

Baca Juga: Synthesis Gandeng Brand Material Bangunan Premium untuk Samara Suites

Julius Warouw, Managing Director Synthesis Development memaparkan, dengan konsep green yang diterapkan, Samara Suites juga makin nyaman dihuni dan memiliki nilai lebih sebagai sebuah investasi.

“Kami harapkan, program sertifikasi EDGE ini mampu mendorong pertumbuhan pembangunan gedung sehingga menggunakan sumber daya secara efisien,” tutur Julius.

Baca Juga: Synthesis dan Anugerah Sepakat Garap Perumahan di Tangerang Selatan

Sementara itu, Yanu Aryani, Konsultan EDGE Indonesia menjelaskan, Samara Suites berhasil melakukan penghematan listrik sebesar 31%, penghematan air 35%, dan penghematan material 48%.

“Penghematan energi antara lain didapat dari bukaan jendela yang lebih kecil, penggunaan low-e coated glass, insulation roof, dan lampu hemat energi,” kata Yanu.

Dia menambahkan, penghematan air diperoleh dari penggunaan keran dan shower hemat air serta double flush closet. Sedangkan penghematan material bangunan diperoleh dari penggunaan autoclaved aerated concrete alias beton ringan.

Tiga Manfaat Green Building
Lebih lanjut Yanu Aryani menuturkan, IFC dan GBCI mengembangkan sertifikasi EDGE dengan tujuan mendorong investasi bangunan gedung hijau di negara-negara berkembang atau emerging market.

“Di Indonesia, EDGE diluncurkan pada Juni 2015 bersama dengan Green Building Council Indonesia (GBCI) sebagai partner lokal, dan saat ini, lebih dari 50 sertifikasi EDGE yang telah dikeluarkan di Indonesia,” ungkap Yanu.

Dia mengatakan, EDGE adalah sistem sertifikasi bangunan hijau yang membuktikan bahwa membangun dengan menerapkan praktik-praktik yang bertanggung jawab secara lingkungan di negara berkembang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip bisnis.

Baca Juga: Pertumbuhan Bangunan Hijau di Tanah Air Dinilai Masih Kurang

Ada tiga manfaat dari bangunan hijau, baik di sisi pengembang, konsumen, dan perbankan. Bagi pengembang, bisa meningkatkan penjualan. Bagi konsumen, dapat menurunkan pengeluaran.

Sementara bagi perbankan, bisa mengurangi angka kredit macet—disebabkan pengeluaran konsumen lebih hemat. Di Amerika Serikat, imbuh Yanu, pengurangan kredit macetnya bisa mencapai 33%.

“EDGE sendiri memiliki software khusus yang dapat diunduh secara gratis. Tak hanya gedung bertingkat, rumah tapak pun bisa dihitung efisiensinya. Standar green building untuk rumah tapak yakni bisa menghemat penggunaan energi, air, dan material bangunan setidaknya 20%,” tutur Yanu.

Gedung-gedung Sedot 30% Energi
Pada kesempatan yang sama, Julius Warouw memaparkan, gedung-gedung di Indonesia saat ini ditengarai mengonsumsi 30% energi dan pada 2030 angka ini diperkirakan meningkat hingga 40%. Pasalnya, pada saat itu sekitar 71% penduduk Indonesia diprediksi akan tinggal di kota besar.

Baca Juga: Greenhouse Tawarkan Co-Working Space Berbasis Ramah Lingkungan

DKI Jakarta telah menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 38 yang diimplementasikan pada 2013, mengenai bangunan gedung ramah lingkungan, atau gedung hijau. Jakarta merupakan kota pertama yang menerbitkan regulasi tersebut di Indonesia. Dalam aturan tersebut terdapat berbagai syarat suatu bangunan bisa dikatakan ‘green building’.

“Bangunan hijau dapat membantu kota-kota di Indonesia tumbuh secara berkelanjutan. Hingga sepertiga dari konsumsi energi dan air yang dipakai gedung-gedung di Indonesia dengan mudah bisa dikurangi melalui desain dan pengelolaan gedung yang lebih baik. Seperti, berapa rasio jendela dibandingkan tembok di gedung tersebut, bagaimana sirkulasi udara, hingga penggunaan lampu dan pendingin ruangan,” jelas Julius.

Enam Sektor Urban
Dalam laporan IFC yang diluncurkan November 2018, yaitu ‘Climate Investment Opportunities for Cities’, disebutkan bahwa potensi investasi yang terkait iklim adalah sebesar USD29,4 triliun di enam sektor urban di negara-negara berkembang.

Keenam sektor tersebut adalah transportasi publik, pengelolaan dan pengadaan air, pengolahan limbah, kendaraan listrik, energi terbarukan dan bangunan gedung hijau.

Baca Juga: Transportasi Massal Bisa Dongkrak Nilai Properti 300%

“Dari keenam sektor tersebut, bangunan gedung hijau memberikan potensi paling besar, yaitu USD24,7 triliun atau lebih dari 80% dari total potensi investasi yang ada,” kata Yanu.

Menurutnya, Jakarta termasuk salah satu kota yang dianalisa secara mendalam. Dalam laporan tersebut juga menyebutkan bahwa potensi bangunan gedung hijau di Jakarta adalah sebesar USD16 miliar atau sekitar 50% dari total potensi investasi terkait iklim di Jakarta yang mencapai USD30 miliar.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda