Copy Cat and Yes Market: Semua Orang Adalah Pembeli Emosional

Sejatinya semua orang itu emotional buyers. Hasrat rasionalnya sering amblas dan seperti kena amnesia. Mereka ini bakal jadi true follower.

Foto: datalytics.it

RumahHokie.com – Hari-hari ini seloyang keju lembut bisa bikin Anda menunggu dua jam, “It’s Pablo”. Ini keju anti bantet yang maknyus dari Jepang dan baru lahir di Gandaria City Mall. Hayo lekas-lekas nyoba.

Antre panjang demi lidah itu sifat manusia modern. Ingat Sour Sally? Yogurt sensasi yang bikin euforia makhluk Jakarta tempo hari.

Lalu pisang pontia juga begitu. Saat IKEA buka di Alam Sutera, puluhan mobil antre nggak bisa masuk. Sekarang, Satpamnya yang antre.

Baca Juga: Kiat Memanfaatkan Isu untuk Pasarkan Produk Properti

Ada juga Klenger Burger di Bintaro. Saat di West Field, dekat Sydney Tower 2012, saya berasa aneh karena orang rela antre panjang pembukaan l’occitane, toko biasa yang di Central Park Grogol sepi-sepi saja.

Sayangnya, semua itu lekas sunset. Bertahan paling lama setahun, lalu back to usual business. Biasa-biasa saja.

Lihat McDonalds dan KFC yang berada pada menara usaha yang terus moncer. Lihat Alfamart yang juga asyik-asyik aja. Perilaku pasar memang bikin pening.

Brian Tracy dalam ‘Psychology of Selling’ bahkan nekad bilang bahwa sejatinya semua orang itu emotional buyers. Hasrat rasionalnya sering amblas dan seperti kena amnesia. Mereka ini bakal jadi true follower.

Baca Juga: Sandwich Strategy: Perang Mini Market Vs Hypermarket

Di dunia properti, yang sangat sensitif kepada isu (positif dan negatif), nafsu copy cat itu kental. Berebut karena orang juga berbondong.

Orang-orang ini nyaman di antara puluhan yang berebut karena merasa “banyak teman” pada risiko apapun, termasuk risiko untung besar yang bikin jantung langsung bengkak dan dikubur abadi. Apa persoalannya?

Pembeli emosional yang berebut pada unit yang juga banyak, akan membuat sengsara dalam jangka pendek sampai tahun kelima.

Properti bersaing saling dapat sewa dan dijual juga rapuh posisi tawarnya, karena ada seribu yang juga ingin menjual.

Over supply tends to reduce transaction value. Bukan developernya yang rugi, tapi Anda yang buntung.

Jadi, berebutlah secara emosional sepanjang Anda tahu bahwa investasi Anda cuma cocok untuk masa hold di atas lima tahun.

Yang rational motives kali ini ada uncertain investment. Yang senang hit and run, minggir aja. Anda cuma cocok main Hang Seng.

Bersama F. Rach Suherman F. Rach Suherman
Mentor investasi properti nasional ini sebelumnya menjabat CEO di tiga perusahaan properti yang berbasis di Indonesia. Saat ini Suherman juga menjadi dosen dan aktif memberi seminar, pelatihan, dan konsultansi untuk perencanaan dan pemasaran properti.

Bila Anda memiliki pertanyaan, kirimkan ke: redaksi@rumahhokie.com

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda