Di Bodetabek, Hunian Vertikal Bersaing Ketat dengan Rumah Tapak

Hanya sekitar 20% kondominium terletak di timur Jakarta dan 30% pasokan ada di selatan Jakarta.

Suasana Jalan Raya Margonda yang mulai dipadati apartemen (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Perumahan tapak memang masih menjadi pilihan utama konsumen di kawasan sekitar Jakarta. Tercatat sebanyak 50.000 hektar lahan perumahan telah dikembangkan di kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bogor (Bodetabek).

Kendati demikian, belakangan kondominium atau apartemen juga mulai diminati konsumen dan demand terus meningkat di lokasi ini. Demikian nukilan “Jakarta Property Market Review” yang dirilis konsultan properti JLL.

Baca Juga: Tren Properti di 2018 yang Harus Anda Ketahui

Lebih dari setengah pasokan kondominium di Bodetabek berlokasi di Tangerang. Hal ini dapat dimengerti, mengingat lebih dari separuh lahan perumahan berskala kota (township) di Bodetabek terletak di barat Jakarta, dimana BSD City—township terbesar dan (mungkin juga) terlengkap di Bodetabek—berada.

“Sementara itu, hanya sekitar 20% kondominium terletak di timur Jakarta dan 30% pasokan ada di selatan Jakarta,” jelas James Taylor, Head of Research JLL Indonesia dalam laporan tersebut.

Baca Juga: Hingga Akhir 2017, Suplai Perkantoran Diprediksi Tembus 600.000m2

Di sisi lain, unit-unit kecil dan murah menjadi target utama para konsumen. Harga di bawah Rp1 miliar paling menarik bagi pembeli, sementara proyek yang dibangun oleh pengembang terkemuka dengan akses infrastruktur—baik yang telah rampung maupun yang akan datang dibangun—juga menjadi daya tarik tersendiri.

Dari 100.000 unit kondominium di Bodetabek yang saat ini dipasarkan, imbuhnya, sekitar 56% telah terserap pasar. Angka ini sedikit lebih rendah dibanding angka penyerapan di DKI Jakarta. Hal ini mungkin disebabkan persaingan yang makin ketat dengan perumahan tapak.

Investor Asing Mengincar Laba
Di lain pihak, investor dari Asia Pasifik tetap terlihat aktif di kuartal III-2017. Tak hanya investor asal Hong Kong, Singapura, dan Jepang yang memang telah lama beroperasi di Indonesia, perusahaan China Daratan pun menaruh minat yang besar berinvestasi dalam beberapa tahun terakhir.

JLL menilai tidak ada transaksi besar-besaran di sektor perkantoran atau ritel selama kuartal III-2017, lantaran pasar yang ketat dan jarangnya transaksi yang terjadi.

Baca Juga: Tren Pasar Properti Naik, Investor Asing Makin Melirik

Sejumlah investor asing terpantau terus mencari lokasi untuk peluang untuk membangun proyek anyar. Sub sektor logistik dan hunian—tapak maupun high rise—tetap menjadi fokus utama beberapa investor asing.

Pada September 2017, Ascott Limited, unit bisnis residensial Capitaland, mengumumkan telah akuisisi 192 unit apartemen Ascott Sudirman senilai USD54 juta. Proyek ini merupakan bagian dari pengembangan baru Ciputra World 2 di Jalan Satrio, Jakarta.

Badan Pendanaan Singapura, GIC, juga mengumumkan usaha patungan lain dengan PT Intiland Development, Tbk untuk mengembangkan proyek Fifty Seven Promenade di Jakarta Pusat. Proyek hunian vertikal ini telah terbukti sukses karena lokasinya yang strategis.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda