Hadapi Empat Kendala, PUPR Yakin Capaian Program Sejuta Rumah Meningkat

Untuk meningkatkan jumlah pasokan rumah layak huni, terutama yang terjangkau MBR, ada empat tantangan yang dihadapi.

rumah minimalis - rumah menengah - rumahhokie - dok
Foto: Dok. RumahHokie.com

RumahHokie.com (Jakarta) – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) menargetkan capaian Program Sejuta Rumah di 2018 lebih tinggi dibanding 2017 silam.

Sebagai informasi, capaian Program Sejuta Rumah di 2015 sebanyak 669.770 unit, di 2016 menyentuh angka 805.169 unit, dan di 2017 mencapai 904.758 unit.

Baca Juga: Resmi, Bank BTN Kembali Kucurkan KPR Subsidi FLPP

“Per 20 Agustus 2018, Program Sejuta Rumah sudah mencapai 582.638 unit. Kami optimistis, karena masih punya waktu sekitar 4,5 bulan, insyaallah di akhir tahun mencapai satu juta unit rumah dengan proporsi 60% hingga 70% adalah rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR),” jelas Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan, Khalawi Abdul Hamid saat peringatan Hari Perumahan Nasional (Hapernas), Sabtu (25/8/2018).

Menurutnya, Hapernas yang diperingati setiap 25 Agustus merupakan momentum untuk meningkatkan kesadaran seluruh pemangku kepentingan perumahan rakyat bahwa rumah merupakan kebutuhan dasar manusia dimana pemenuhannya menjadi tanggung jawab bersama.

Baca Juga: Pengembang Usulkan Harga Rumah Naik, Ini Jawaban Kementerian PUPR

Program Sejuta Rumah yang diinisiasi Pemerintah pada 29 April 2015 adalah adalah gerakan bersama oleh seluruh pemangku kepentingan bidang perumahan, baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Pengembang Perumahan, Perbankan, Perusahaan Swasta dan masyarakat untuk mengatasi backlog perumahan di Indonesia.

Empat Tantangan Perumahan Rakyat
Sementara itu, Dirjen Pembiayaan Perumahan, Lana Winayanti mengatakan, jumlah backlog perumahan berdasarkan konsep penghunian sebanyak 7,6 juta unit pada 2015. Ditargetkan, backlog dapat turun menjadi 5,4 juta unit di 2019.

Sementara backlog perumahan berdasarkan konsep kepemilikan rumah sebanyak 11,4 juta unit tahun 2015 yang ditargetkan turun menjadi 6,8 juta unit pada tahun 2019.

Untuk meningkatkan jumlah pasokan rumah layak huni, terutama yang terjangkau MBR, ada empat tantangan yang dihadapi. Pertama, tingkat keterjangkauan (affordability) MBR masih rendah, baik membeli rumah dari pengembang, membangun secara swadaya, maupun meningkatkan kualitas rumah tidak layak huni.

Baca Juga: PPDPP: Ada 8 Bank Penyalur KPR FLPP dengan Performa Buruk

Kedua, ketersediaan dana (availability) dimana pola/skema pembiayaan perumahan bagi MBR terbatas. Ketiga, akses MBR (accessibility) ke sumber pembiayaan perumahan (lembaga keuangan) untuk mendapat kredit pemilikan rumah (KPR) masih terbatas.

Keempat, sumber dana (sustainability) pembiayaan perumahan masih bersifat jangka pendek sehingga tidak dapat berkelanjutan untuk KPR yang bersifat jangka panjang (maturity mismatch).

Baca Juga: Penyaluran KPR Subsidi FLPP Didukung 43 Bank Pelaksana dan PT SMF

“MBR sebenarnya memiliki daya beli, namun mengalami kesulitan akses, oleh karena itu Pemerintah menggulirkan sejumlah program untuk memfasilitasi pembiayaan rumah bersubsidi,” tambah Lana.

Program pembiayaan perumahan yang sudah berjalan seperti KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Subsidi Selisih Bunga Kredit Perumahan (SSB), Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT).

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda