Herry Tan: Mantan TKI Itu Kini Sukses Jadi Broker Properti

Sempat banting tulang sebagai pekerja pabrik di luar negeri, Herry Tan menemukan passion dan keberuntungan di bisnis broker properti. Keinginan untuk terus belajar adalah kuncinya.

Herry-Tan-Principal-Ray-White-Summarecon-Bekasi-Anto-Erawan-rumahhokie-dok
Herry Tan, Principal Ray White Summarecon Bekasi (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Bekasi) – Sukses adalah pilihan. Mungkin kalimat ini bisa menggambarkan sosok dan perjalanan karir seorang Herry Tan, Principal Ray White Summarecon Bekasi.

Sukses sebagai agen properti, siapa sangka Herry Tan pernah mengais rezeki hingga ke luar negeri sebagai TKI dan merugi dalam investasi?

Baca Juga: Johann Boyke Nurtanio: Kunci Sukses Broker Properti Adalah Adaptasi Teknologi

Herry bercerita, pada saat krisis moneter melanda Tanah Air, dia terpaksa meninggalkan bangku kuliah untuk bekerja. Di 2002, ada tawaran bekerja di Korea Selatan dengan gaji setara Rp8 juta.

“Uang sebanyak itu, tentu menggiurkan. Apalagi gaji karyawan fresh graduate saat itu hanya berkisar Rp1,3 juta,” akunya.

Namun, hal yang tidak diketahui Herry adalah dia harus bekerja di pabrik besi. Bekerja 12 jam sehari, dia harus mengangkat besi dua hingga tiga ton per hari.

Baca Juga: Pentingkah Penampilan dan Gaya Berbusana Bagi Broker Properti?

“Tiga tahun bekerja di Korea, saya mendapat banyak pelajaran, terutama soal kedisiplinan, fokus dan tanggung jawab dalam bekerja. Orang Korea mirip dengan orang Jepang, mereka maju karena disiplin dan menjaga mutu produk,” kata Herry.

Tahun 2005, Herry kembali ke Indonesia dan menanamkan uangnya untuk investasi, salah satunya dengan “bermain” saham. Namun di 2009, bukan untung yang diraih, malah kerugian besar yang didapat.

Di saat berada di titik nadir itulah, takdir seorang Herry Tan berubah.

Nekat Jadi Broker Properti
Merasa butuh uang, Herry kemudian mencari pekerjaan. Lantaran tak pernah bercita-cita jadi pegawai, maka profesi yang dipilihnya adalah agen properti—sebuah pekerjaan yang tak terikat jam kerja.

Herry mengaku saat memulai karir sebagai broker properti di 2009, profesi ini masih dipandang sebelah mata.

“Dulu sih malu, karena broker kan nggak digaji. Berbeda dengan bekerja di bank atau perusahaan lain,” kenang Herry.

Baca Juga: Tips Broker Properti: Ketahui Nilai Psikologis Sebuah Rumah Agar Terjual Mahal

Dia menuturkan, menjadi broker hanya modal nekat, karena saat itu belum mengerti apa-apa soal bisnis broker properti. Tapi Herry tak menyerah dan mau belajar.

“Saya memulai karir di Ray White Kelapa Gading Barat sebagai marketing. Menurut saya, di Kelapa Gading rumahnya bagus-bagus dan kebanyakan dimiliki investor, jadi saya pikir omzetnya bisa tinggi. Selain itu, saya pikir kalau mau jadi yang terbaik, harus bergabung dengan perusahaan yang terbaik. Maka saya pilih Ray White,” jelasnya.

Baca Juga: Tips Broker Properti: Pilih Banyak Listing atau Selektif?

Sebagai broker baru, imbuhnya, beragam hambatan harus dilalui, antara lain keterbatasan listing dan data base.

“Saya termasuk yang rajin pasang iklan—dulu masih iklan di koran-koran—akhirnya saya banyak kenalan atau referensi dari klien. Di Kelapa Gading kan banyak investor, jadi listing dan kenalan makin banyak,” kata Herry.

Hasil memang tak pernah mengkhianati ikhtiar. Kerja keras Herry pun diganjar beragam penghargaan, seperti Top Sales Ray White.

Closing Ibarat Buah
Selain keinginan untuk belajar, jelas Herry, tips kesuksesannya adalah mencintai pekerjaan yang digeluti. Alasannya, jika sudah cinta tentu kita akan memberikan segalanya.

“Banyak orang yang gagal sebagai broker properti, karena setengah-setengah. Mereka biasanya punya bisnis lain, jadi broker properti hanya pekerjaan sambilan,” paparnya. “Jadi untuk sukses harus fokus, sehingga hasilnya luar biasa.”

Baca Juga: Tips Jadi Broker Properti Sukses di Era Digital 

Herry mengatakan, closing seharusnya tidak menjadi patokan, karena yang terpenting adalah sistem kerja. Broker harus belajar cara mencari listing, melakukan negosiasi, dan teknik selling. Selain itu, setiap meeting harus datang dan sering meng-update listing.

“Jadi, closing ibarat buah. Jika cara menanam dan bibitnya sudah bagus, buahnya tentu akan bagus juga,” tukasnya.

Membuka Kantor Baru
Pada 2013, Herry Tan memutuskan untuk membuka kantor baru. Pilihannya jatuh pada kawasan Summarecon Bekasi.

“Saya melihat Summarecon Bekasi memiliki peluang besar, karena baru dikembangkan. Di 2013, kawasan ini masih sepi. Bahkan, kantor kami adalah kantor broker pertama yang dibuka di daerah ini,” urai Herry.

Baca Juga: Survei RumahHokie.com: Bekasi Jadi Lokasi Pilihan Konsumen Properti

Saat ini, Ray White Summarecon Bekasi memiliki 30 marketing dan menjadi salah satu kantor yang disegani di Tanah Air. Sejumlah penghargaan pun mengiringi perjalanan karir Herry dan kantor broker miliknya, antara lain penghargaan EPC (Elite Performers Club) yang didapat tiap tahun, Top 2 Indonesia di 2017, dan Principal of The Year 2017.

“Tahun ini, target kami menjadi Top 1 atau setidaknya Top 3 di Ray White Indonesia,” katanya.

Baca Juga: Potensi Investasi Kawasan Timur Jakarta di Mata Broker Properti

Sukses Ray White Summarecon Bekasi, menurut Herry, lantaran dirinya menerapkan disiplin bagi marketingnya dan mengutamakan pelayanan kepada klien.

“Selain itu, penggunaan digital marketing pun menjadi satu kewajiban. Saya tidak mentolerir jika ada marketing yang nggak bisa (digital marketing). Karena nggak ada orang yang nggak bisa, yang ada hanya orang yang nggak mau belajar. Tim hebat mesti disuport oleh orang-orang hebat juga,” pungkasnya.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda