Investor di Asia Pasifik Bidik Sektor Properti Alternatif

JLL mendefinisikan sektor-sektor alternatif sebagai aset real estat non-tradisional seperti perawatan lansia atau panti jompo, perumahan siswa, pendidikan, pusat data dan laboratorium.

Suasana di kota Sydney, Australia (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Investor properti di Asia Pasifik terindikasi mulai banyak beralih ke sektor real estat alternatif untuk mengharapkan hasil yang menarik dalam jangka panjang. Demikian hasil penelitian konsultan properti asal Chicago, Amerika Serikat, JLL.

Dalam laporan bertajuk ‘Bangkitnya Real Estate Alternatif di Asia Pasifik’, JLL mendefinisikan sektor-sektor alternatif sebagai aset real estat non-tradisional seperti perawatan lansia atau panti jompo, perumahan siswa, pendidikan, pusat data dan laboratorium.

Baca Juga: Tantangan Utama Pengembangan Bisnis Real Estat Masa Depan

“Secara global, Pasar real estat alternatif Asia Pasifik masih relatif belum matang dibandingkan dengan Eropa dan AS, tetapi minat terus berkembang karena investor terus mencari sektor baru untuk melakukan diversifikasi aset dan meningkatkan imbal hasil,” jelas Rohit Hemnani, COO dan Head of Alternatives, Pasar Modal, JLL Asia Pasifik.

Menurutnya, cara aset alternatif terstruktur menyajikan sewa operasi jangka panjang, yang menyediakan aliran pendapatan yang stabil dan menurunkan volatilitas pasar.

JLL memperkiraan hasil atas aset alternatif dapat berkisar dari 4% – 6% di Tokyo dan Singapura, serta 6% – 7% di Sydney. Sebaliknya, aset utama seperti gedung perkantoran hanya menghasilkan sekitar 2,5% di Tokyo dan 4,5% di Sydney, sementara pusat perbelanjaan sekitar 5% di Australia dan 2,5% – 3% di Tokyo.

Baca Juga: Inilah Tiga Lokasi Investasi Properti Favorit di Asia Pasifik

Hemnani menambahkan, pembeli aset alternatif teratas secara global adalah DIRE (Dana Investasi Real Estat), dana ekuitas, manajer investasi, perusahaan operasi real estat, dan pengembang.

“Pada 2016 saja, lima kelompok investor ini menempatkan lebih dari USD43 miliar ke dalam sektor tersebut. Di Asia Pasifik, kami melihat kecenderungan serupa dari pengembang dan ekuitas swasta yang mengalokasikan lebih banyak modal pada aset alternatif. Sementara untuk perawatan lansia, DIRE sangat aktif di negara-negara seperti Jepang,” tuturnya.

Faktor Pendorong
Laporan JLL menjelaskan, prospek aset alternatif di Asia Pasifik positif akan mendapatkan momentum karena pergeseran demografis seperti urbanisasi, populasi penduduk yang menua, peningkatan kekayaan, dan meningkatnya penggunaan teknologi.

Aset properti alternatif seperti pendidikan dan penyimpanan akan memperoleh manfaat dari pertumbuhan populasi perkotaan di Asia Pasifik, yang akan mencapai lebih dari 400 juta jiwa pada 2027.

Baca Juga: Tren Properti di 2018 yang Harus Anda Ketahui

Adopsi smartphone, komputasi berbasis cloud, dan Internet of Things (IoT) yang cepat akan mendorong lonjakan permintaan akan pusat data, didukung oleh tambahan 560 juta pengguna internet selama dekade berikutnya di wilayah tersebut.

Di sisi lain, populasi lansia di kawasan tersebut akan meningkat dengan tambahan 146 juta orang dalam 10 tahun ke depan, dengan demikian akan berkontribusi pada perluasan perumahan lansia dan panti jompo.

Hemanani menjelaskan, dengan urbanisasi yang pesat di seluruh wilayah, sekolah internasional di Asia Pasifik diperkirakan akan bertambah sebanyak tiga sampai empat kali lipat untuk memenuhi target 10 juta siswa selama 15 tahun ke depan.

“Hal ini akan meningkatkan sektor pendidikan dan akomodasi siswa yang penempatannya baik untuk tumbuh di Australia, China, India dan Asia Tenggara. Sementara itu, populasi lansia yang meningkat membuat pasar perumahan lansia akan berjalan dengan baik, khususnya di Jepang dan China,” katanya.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda