Investor Early Bird versus Investor Angry Bird

Pada unit yang super banyak dengan proyek yang bagus dan dikembangkan oleh developer bagus, yang membeli pasti investor semua. Bahkan membelinya dengan panik.

early bird - angry-birds - rumahhokie - dok
Membeli properti di awal (early bird) tak selamanya menguntungkan (Foto: diolah Rumahhokie.com)

RumahHokie.com – Burung dianggap lambang kesuksesan dan perdamaian. Tapi ayam sering di-bully, mulai jadi julukan pengecut (chicken) sampai ayam penyet.

Burung memang beda. Love bird itu sweet, birdy untuk pegolf yang memukul satu di bawah par, dan early bird (pembeli properti paling awal yang dapat harga lebih murah).

Baca Juga: Investor Panik dan Investor Burung Bangkai

Memangnya setiap pembeli early bird pasti untung? Belum tentu! Uang Anda ditanam tanpa ada potensi cash inflow dalam jangka pendek. Cicilan jalan terus, pembangunan jalan di tempat. Developer menunggu sampai uang Anda menumpuk, baru bisa bayar kontraktor.

Anda memang beli murah, tapi di lokasi yang buruk atau unitnya super banyak. Rumusnya, Anda harus main middle term alias nggak boleh buru-buru menjual.

Baca Juga: Investasi Menguntungkan, Beli Properti dengan Formula 3-2-1

Pada unit yang super banyak dengan proyek yang bagus dan dikembangkan oleh developer bagus, yang membeli pasti investor semua. Bahkan membelinya dengan panik.

Jika main short term—apalagi menyesal setelah membeli—Anda akan menjualnya dengan panik. Di satu sisi, harga dari developer naik terus, tetapi investor menyesal ingin menjual tanpa untung. Inilah kelompok early bird yang jadi angry bird.

Baca Juga: Investasi Properti Harus Tahu Dulu Prinsip-prinsipnya

Predator burung ya elang. Pembeli santai ini menunggu burung kelelahan. Si elang tidak perlu ikut rebutan sampai hilang sandal. Nunggu saja dengan sabar sambil garuk-garuk bulu. Penjual panik pasti datang.

Ditawarkan harga saat beli, padahal harga dari developer sudah jauh melambung. Si elang untung dan burung limbung. Developer tetap mujur karena dia masih punya konsep-konsep beda yang masih akan diserbu burung-burung lain.

Inilah hukum alam. Ada yang jadi burung, ada yang jadi elang. Tapi, ada juga yang jadi tokek, yang cuma bunyi: beli-jangan, beli-jangan. Lama-lama kejepit lemari.

F. Rach Suherman
Mentor investasi properti nasional ini sebelumnya menjabat CEO di tiga perusahaan properti yang berbasis di Indonesia. Saat ini Suherman juga menjadi dosen dan aktif memberi seminar, pelatihan, dan konsultansi untuk perencanaan dan pemasaran properti.

Bila Anda memiliki pertanyaan, kirimkan ke: redaksi@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda