Investor Properti Jagoan Mesti Tahu Flipping Indicator

Flipping adalah indikator sebelum Anda memutuskan menjual properti. Dalam keadaan normal, pertimbangkan menjual properti saat harga sudah berlipat.

RumahHokie.com – Seperti bersiap untuk melakukan perjalanan jauh, Anda membutuhkan termometer untuk memberi keyakinan diri bahwa suhu tubuh Anda normal dan siap berangkat. Nah, bisnis properti juga memiliki parameter yang menjadi indikasi bahwa sebuah properti sudah bisa dijual.

Sejatinya, Anda bisa menjual kapan saja. Apalagi sedang butuh uang. Anggaplah Anda sedang tidak butuh uang dan ingin menggandakan investasi.

Baca: Cara Mengukur Kesehatan Investasi Properti

Perlu diingat, proses penggandaan properti berbeda dengan dukun pengganda uang seperti Dimas Kanjeng. Ini proses realistis yang bisa dilakukan siapa saja dan Anda cukup berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Menggandakan properti berasal dari keuntungan saat menjual properti sebelumnya. Hasilnya: untuk membeli properti lebih banyak!

Flipping menjadi salah satu indikator sebelum Anda memutuskan menjual properti. Dalam keadaan normal, dimana uang tidak benar-benar sedang Anda butuhkan, pertimbangan menjual sebaiknya ketika properti  sudah berlipat dua dari harga belinya (flip).

Parameter ini mengabaikan berapa lama terjadinya. Bisa enam bulan atau bahkan enam tahun. Flipping secara harfiah melihat bahwa properti yang Anda beli Rp300 juta, hari ini sudah bernilai Rp600 juta. Beres!

Bagaimana jika belum flip dan Anda ingin menjual? Ya jual saja. Jangan berat-berat deh kalo main properti.

Kuncinya: Lokasi
Pada saat Anda berinvestasi short-term (1-12 bulan), flipping boleh dipertimbangkan bukan dari kelipatan harga beli, tetapi dari kelipatan modal (equity) yang sudah ditanam. Kalau bisa berlipat dalm jangka pendek dari harga beli, ya ciamik. Itu hebat bin mujur.

Kuncinya adalah LOKASI. Pada lokasi yang baik, minimal ada tiga hal yg menonjol: menjadi positive public attention terus-menerus, dinamika pasar supply/demand yang terus bergerak menarik, dan investment heaven area (penghasil panen capital gain dan cap rate yang dahsyat).

Jadi, berinvestasi properti itu adalah keputusan rasional (rational motives). Kurangi sebanyak mungkin pertimbangan emosional (emotional motives) seperti gengsi, teduh, dekat rumah artis, atau pohon rambutan sudah berbuah.

Tapi Anda bisa apa kalau yang mengambil keputusan isteri? Begitu dia suka, apa Anda berani?

Bersama F. Rach Suherman F. Rach Suherman
Mentor investasi properti nasional ini sebelumnya menjabat CEO di tiga perusahaan properti yang berbasis di Indonesia. Saat ini Suherman juga menjadi dosen dan aktif memberi seminar, pelatihan, dan konsultansi untuk perencanaan dan pemasaran properti.

Bila Anda memiliki pertanyaan, kirimkan ke: redaksi@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda