Johann Boyke Nurtanio: Kunci Sukses Broker Properti Adalah Adaptasi Teknologi

Ke depan, teknologi akan berpengaruh pada bisnis broker. Sekarang, tinggal bagaimana para broker beradaptasi dengan teknologi tersebut.

johann boyke nurtanio - ceo ray white indonesia - anto erawan - rumahhokie - dok
Johann Boyke Nurtanio, CEO Ray White Indonesia (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Bekasi) – Sumber daya manusia (SDM) merupakan keunggulan kompetitif (competitive advantage) yang dimiliki Ray White Indonesia dalam persaingan di bisnis broker properti Tanah Air.

Menurut Johann Boyke Nurtanio, CEO Ray White Indonesia, semua perusahaan yang berkompetisi harus memiliki competitive advantage. Dan aset terbesar Ray White adalah the right people alias orang-orang yang tepat.

Baca Juga: Kisah 5 Bintang Film Dewasa yang Banting Setir Jadi Broker Properti

Franchise adalah bisnis dengan economies of scale, jadi fase pertama yang harus dilakukan adalah fokus pada bisnis yang substansial. Tolok ukurnya, punya network yang besar. Untuk skala Indonesia, minimal harus punya 100 kantor. Dan itu sudah kami capai empat tahun yang lalu. Saat ini, kami sudah punya 175 kantor lebih,” papar Johann Boyke Nurtanio kepada RumahHokie.com di sela acara Ray White Summarecon Bekasi Annual Awards.

Setelah network, yang menjadi fokus adalah nilai. Ray White Indonesia memiliki target menjadi One Billion Dollars Company atau perusahaan dengan omzet penjualan USD1 miliar (sekitar Rp15 triliun).

Baca Juga: Ketua AREBI Tekankan Pentingnya Sertifikasi dan Etika Broker Properti

“Kami sudah capai target ini tiga tahun yang lalu. Saat ini omzet penjualan kami sekitar Rp17 triliun,” kata Boyke.

Di usia ke-22, Ray White Indonesia memasuki fase kedua. Boyke menyadari pertumbuhan perusahaan datang dari kualitas layanan. Tolok ukurnya adalah kepuasan pelanggan.

“Jadi, experience sangat penting. Di zaman sekarang ini, kalau berkompetisi, jangan hanya memenuhi ekspektasi pelanggan, tetapi harus melebihi ekspektasi mereka. Kalau hal itu terjadi, maka pelanggan akan puas,” tuturnya.

Baca Juga: Tips Sukses Melakukan Negosiasi Bagi Broker Properti

Bila pelanggan puas, imbuhnya, tentu mereka akan kembali meminta jasa si broker atau repeat order. Tak hanya itu, pelanggan yang puas juga akan merekomendasikan jasa si broker kepada teman atau saudara mereka (referral).

“Akhirnya, kita bukan hanya melayani konsumen kita, tetapi juga komunitas,” ujar Boyke yang mengatakan tujuan bisnis broker properti adalah menolong orang mendapatkan rumah impian mereka.

Adaptasi Teknologi “Zaman Now”
Peran teknologi dalam bisnis broker properti sudah dimafhumi Boyke. Dia mengatakan, teknologi memang tidak akan bisa menggantikan seorang agen properti, tetapi akan membantu dia berbisnis.

Ray White sendiri, ungkapnya, memiliki teknologi One System yang mempermudah agen properti memasang listing properti daring.

Baca Juga: Lukas Bong: Tentang Hunian Milenial, Pelemahan Rupiah, dan Broker di Era Teknologi

“Kami adalah satu-satunya franchise broker properti di indonesia yang punya teknologi seperti ini,” aku Boyke.

Lebih lanjut dia memaparkan, ke depan teknologi akan berpengaruh pada bisnis broker, dan sekarang tinggal bagaimana para broker beradaptasi dengan teknologi tersebut.

“Kuncinya harus menerima dulu. Sekarang sudah ‘zaman now’, semuanya pakai teknologi. Nah, setelah kita terima, baru kita bisa berubah. Jadi adaptasi dulu, baru transformasi,” urainya.

Baca Juga: Tidak Tersertifikasi, Broker Properti Bisa Dipenjara Empat Tahun

Selain itu, sekarang ini merupakan era big data, dimana data menjadi faktor penting dalam memberikan servis kepada pelanggan. Dengan data yang dimiliki perusahaan broker, pelayanan bisa dilakukan sesuai keinginan konsumen (customized).

“Bila kita tidak punya data, produk yang ditawarkan bisa jadi tidak sesuai dengan keinginan pelanggan. Misalnya, orang yang masih single, tetapi ditawari unit rumah lima kamar, atau orang dengan anak lima anak ditawari apartemen tipe studio,” jelas Boyke.

Customer Satisfaction
Bagi Boyke, hal terpenting dari teknologi adalah CRM (customer relationship management) atau bagaimana perusahaan bisa mengelola konsumen supaya bisa memiliki hubungan dekat.

Customer satisfaction hanya bisa didapat jika semua anggota tim juga terlibat (engage). Dan orang-orang akan terlibat jika ada kepemimpinan yang kuat.

Baca Juga: Inilah Kasus Hukum yang Sering Menjerat Broker Properti

“Bila ingin fokus ke customer satisfaction, refleksi kepuasan pelanggan adalah refleksi kepemimpinan kita. Jadi, hal ini kembali ke pemilihan orang yang tepat,” katanya.

Fokus pada leadership, Ray White setiap tahun mengadakan training kepemimpinan di Sydney. Tak tanggung-tanggung, Ray White mendatangkan profesor leadership kelas dunia dari Harvard Business School, yakni Boris Groysberg.

“Intinya Kita harus terus belajar dan improve. Kalau mau maju, kita harus membantu diri kita dulu, baru kita bisa membantu orang lain,” ujar Boyke.

Agresif atau Konservatif?
Terkait target bisnis Ray White Indonesia tahun ini, Boyke menerangkan, biasanya pertumbuhan per tahun sekitar 30%, namun target tahun ini lebih konservatif yakni sekitar 11%.

“Kita harus lihat hasil Pemilu dulu, baru bisa buat proyeksi empat tahun ke depan. Planning-nya yang agresif atau konservatif, sesuai kondisi,” katanya.

Baca Juga: Tips Broker Properti: Ketahui Nilai Psikologis Sebuah Rumah Agar Terjual Mahal

Menurutnya, business plan bersifat dinamis. Terkadang, di pertengahan tahun target sudah tercapai, jadi target harus dinaikkan. Bisa juga sebaliknya, di pertengahan tahun masih jauh dari target.

“Perlu juga dievaluasi, pencapaian target disebabkan oleh kinerja broker atau bisa juga karena kondisi pasar yang sedang bagus,” pungkasnya.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda