Keamanan Investasi Properti dan Kasus Meikarta di Mata Pengembang Australia

Di Australia, uang muka cuma 10% dan sisanya dibayar setelah proyek selesai. Bila proyek mangkrak, uang dikembalikan kepada konsumen.

iwan-sunito-crown-group-developer-sydney-australia-by-anto-erawan-rumahhokie-dok.
Iwan Sunito, CEO Crown Group (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Investasi properti di Australia menjadi pilihan sebagian investor asal Indonesia. Alasannya beragam, tetapi kebanyakan sebagai tempat tinggal anaknya bersekolah.

Iwan Sunito, CEO dan Komisaris Crown Group—pengembang properti yang berbasis di Sydney Australia—menjelaskan, Australia memang menjadi lokasi favorit bagi warga Indonesia, karena udaranya nyaman, budayanya seperti di Eropa, namun jaraknya tidak jauh dari Indonesia.

Baca Juga: Diluncurkan di Indonesia, Target Penjualan Mastery by Crown Group Capai Rp200 Miliar

“Ada beberapa kota yang biasa dikunjungi, namun dua kota yang kuat di sisi ekonomi adalah Sydney dan Melbourne yang masing-masing menyumbang 33% dan 30% di Australia,” kata Iwan Sunito di sela peluncuran Mastery by Crown Group di Jakarta.

Meski demikian, jika dilihat dari kacamata bisnis properti, kedua kota ini memiliki karakteristik yang berbeda. Di sydney developer tidak terkonsentrasi di tengah kota, karena kawasan Sydney yang berbukit-bukit. Sehingga kota ini memiliki tiga sub kota, yakni Sydney, Chatswood, dan Parramatta.

Baca Juga: Dua Kota di Australia Ini Makin Menarik Orang Super Kaya Dunia

Lokasi bandara yang dekat dari Kota Sydney (hanya sekitar 15 menit), membuat gedung-gedung yang dibangun tidak bisa terlalu tinggi, karena dikhawatirkan akan mengganggu lalu lintas penerbangan pesawat.

Sementara itu, Melbourne memiliki tanah yang datar dan jarak bandara jauh dari pusat kota. Ini membuat gedung-gedung di Melbourne bisa dibangun dengan ketinggian 70 lantai.

“Hal ini membuat kenaikan harga properti di Melbourne tidak setinggi di Sydney yang merupakan kawasan dengan pertumbuhan properti paling tinggi di Australia,” kata Iwan.

Investasi Aman dan Kasus Meikarta
Hal lain yang membuat konsumen Indonesia tertarik membeli properti di Australia antara lain lantaran mereka banyak menjadi korban penipuan pengembang.

“Mereka membayar, namun kemudian proyek tidak jalan, karena di sini jadwal pembayaran tidak terait dengan jadwal pembangunan. Jadi, pengembang tidak membangun pun, konsumen harus membayar. Inilah letak permasalahannya,” urai Iwan.

Baca Juga: Resep Iwan Sunito Dorong Kenaikan Harga Properti Besutan Crown

Di Australia, imbuhnya, pembayaran uang muka cuma 10%, sementara sisanya dibayar setelah proyek selesai, yakni sekitar dua tahun.

Pada saat itu, konsumen sudah bisa menikmati kenaikan harga (capital gain). Jika developer bangkrut, uangnya kembali ke konsumen, karena uang muka dari konsumen tidak diserahkan ke developer, melainkan disimpan di pihak ketiga, yakni trust account atau lawyer account.

“Di indonesia, konsumen yang kecewa (pada developer) itu sudah banyak terjadi dan yang terakhir adalah kasus Meikarta yang menjadi heboh,” kata Iwan.

Baca Juga: Kasus Meikarta Seret Bupati Bekasi, Direktur Lippo Group, dan “Tina Toon”

Dia menambahkan, telah banyak perusahaan raksasa di dunia yang bangkrut, karena tidak menjalankan bisnisnya dengan benar.

“Bila orang jual dengan harga murah, berarti ada masalah di belakangnya. Produk yang dijual murah, karena memang murah. Dan kalau (produk murah ini) tidak bisa menghasilkan uang, maka (perusahaan) akan bangkrut,” jelas Iwan.

Investasi Masa Depan
Lebih lanjut Iwan Sunito mengatakan, di samping masalah keamanan investasi, Australia juga menawarkan pajak yang lebih rendah ketimbang negara favorit lain seperti Singapura.

“Di Singapura, pajak properti untuk warga negara asing mencapai 25%, tetapi di Australia hanya 11%,” ujarnya.

Baca Juga: Mau Beternak Properti di Australia, Simak Resep Berikut ini

Selain itu, banyak orangtua yang sudah memikirkan masa depan anaknya jauh-jauh hari. Misalnya, mereka membeli properti sebagai investasi untuk anaknya bersekolah di Australia 5 – 10 tahun ke depan.

Menurut Iwan, hal ini logis karena proyek properti yang dibangun saat ini, tidak bisa dibeli dengan harga yang sama lima tahun ke depan, disebabkan inflasi, serta kenaikan harga tanah dan bangunan.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda