Mbah Parno, Pegawai Tertua Masjid Istiqlal Diberi Rumah Setelah 66 Tahun Mengabdi

Bantuan rumah yang diberikan Kementerian Agama RI, merupakan bentuk apresiasi terhadap Mbah Parno, karena telah mengabdi selama 66 tahun di Masjid Istiqlal.

Mbah Parno, Bantuan Rumah, Kementerian Agama RI, Pegawai Masjid Istiqlal
Suparno atau yang lebih akrab disapa Mbah Parno, mendapatkan hadiah sebuah rumah dari Kementerian Agama RI, Jum'at (04/01/2019). Pria berumur 90 tahun ini mendapatkan kado istimewa tersebut karena pengabdiannya selama 66 tahun sebagai pegawai di Masjid Istiqlal. (Foto: Dok. Kemenag)

RumahHokie.com (Jakarta) -Seorang pegawai tertua Masjid Istiqlal bernama Suparno atau yang biasa disapa Mbah Parno mendapatkan hadiah berupa bantuan rumah dari Kementerian Agama Republik Indonesia.

Bantuan hunian ini diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap Mbah Parno karena telah mengabdi selama 66 tahun di Masjid Istiqlal. Rencananya, Kemenag akan memberi Rumah tapak di kawasan Panorama Kemang, Desa Tegal, Parung, Bogor.

Pemberian hadiah rumah itu secara simbolis dilakukan oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin dalam acara peringatan Hari Amal Bakti (HAB) di Gedung Kementerian Agama, jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (04/01/2019) yang lalu.

Baca Juga: Cerita Tentang Arsitek Masjid Istiqlal yang Belum Diketahui Publik

“Semoga membawa berkah dan manfaat. Ini ada bantuan dari ASN Kementerian Agama,” ucap Lukman Hakim dalam sambutannya saat memberikan bantuan, seperti dilansir dari laman resmi Kemenag.

Selama Mbah Parno di Jakarta, ia mengontrak hunian yang berada di Jalan Garuda, Gang Mangga, Kemayoran. Pria kelahiran tahun 1928 di Desa Kalimati, Boyolali, Jawa Tengah, itu menyewa tanah berukuran 8 meter x 3,5 meter dengan biaya 3 juta/tahun.

Untuk bangunannya, dia mendirikan sendiri. Sejak ditinggal istri tercinta pada 2007 lalu, rumah tersebut dihuni Mbah Parno bersama empat anak dan dua cucunya. Sedangkan, satu putrinya telah menikah dan mengontrak sendiri.

Perjalanan Mbah Parno di Istiqlal
Lalu, siapakah sosok pria lulusan kelas 3SR itu? Dan bagaimana awal mula Mbah Parno bisa bekerja di masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara tersebut?

Baca Juga: Truk Ini Dirancang Bisa Bertransformasi Menjadi Masjid Portable

Berdasarkan keterangan Humas Kemenag, Mbah Parno pertama kali merantau ke Jakarta pada tahun 1951, dengan bekerja sebagai kuli bangunan.

Di tahun 1952, saat pembangunan Masjid Istiqlal mulai berlangsung, mandor yang diikuti Mbah Parno turut dalam proyek tersebut. Pada momen inilah, ia yang kala itu berusia 24 tahun, bertemu dengan arsitek Masjid Istiqlal, yaitu Friedrich Silaban.

Pada saat itu, dirinya bertugas sebagai kuli bangunan, sembari mencari tenaga-tenaga untuk pembangunan masjid.

Baca Juga: Presiden Jokowi Perintahkan Menteri PUPR Renovasi Rumah Zohri

“Saya jalan kaki muter-muter mencari orang untuk kerja proyek di masjid ini. Para tukang becak saya tawari. Saat itu, kita dibayar Rp15 seharinya,” cerita Mbah Parni.

Setelah masjid selesai dibangun dan siap digunakan, diangkat menjadi pegawai Istiqlal. Tugas utamanya adalah mengantar surat.

Sejak Mei 2016, Mbah Parno dipercaya masuk Bidang Takmir Bagian Tim Fasilitas Ibadah.
Tugasnya adalah mengingatkan para jamaah untuk merapatkan dan meluruskan shaf (barisan) saat shalat jamaah Dhuhur dan Ashar.

“Selama masih kuat, saya diperbolehkan bekerja di sini. Jika sudah tidak kuat, saya baru akan berhenti. Kerja di sini saya ikhlas, karena bisa shalat berjama’ah. Saya hanya mengharap ridha Allah SWT,” pungkasnya.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda