Momen Pemilu 2019 Dianggap Tidak Pengaruhi Pasar Properti Indonesia

Menurut Savills, para investor asing masih melihat Indonesia sebagai negara yang sangat prospektif dalam pengembangan bisnis properti.

Kondisi pasar properti Indonesia, Pasar Properti Jakarta, Savills Indonesia, tahun politik, Pemilu 2019
Ilustras pasar properti di Jakarta. (Foto: Adhitya Putra-RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Pasar properti Indonesia dinilai tak terpengaruh dengan penyelenggaraan Pemilu 2019 pada April nanti.

Menurut Anton Sitorus, Director of Research and Consultancy Savills Indonesia, sebenarnya momen Pemilu 2019 tidak terlalu berdampak pada kondisi pasar properti. Hal itu dikarenakan, dua hal tersebut berbeda.

“Seperti halnya terjadi pada tahun 2014, pemilu lebih berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi, seperti melemahnya nilai tukar rupiah, penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) dan lain sebagainya,” ujar Anton, Rabu (27/02/2019) di Senayan, Jakarta.

Baca Juga: Pasar Apartemen: Antara Investor, Pemilu, dan Ekonomi Global

Sedangkan, ia menilai momen tahun politik tidak membawa pengaruh langsung terhadap bisnis properti di Indonesia, khususnya Jakarta.

Bahkan, Savills melihat masih banyak investor asing yang berminat untuk menanamkan modalnya pada industri properti di Tanah Air.

“Banyak orang menilai kondisi industri properti Indonesia berada di level bawah. Akan tetapi di sisi lain, investor masih melihat Indonesia sebagai negara yang sangat prospektif,” tutur Anton.

Ia mencontohkan para investor dari Jepang yang beberapa waktu belakangan ini mulai terlihat aktif membangun proyek di Indonesia, khususnya di Jakarta.

Baca Juga: 2018, Penjualan Apartemen di Jakarta Tergolong Rendah dalam 10 Tahun Terakhir

“Kebanyakan investor asing tertarik untuk berinvestasi pada sektor residensial di perkotaan. Mereka memilih jalan berpartner dengan perusahaan properti lokal yang sudah paham dengan seluk-beluk kondisi bisnis properti di Tanah Air,” terang Anton.

Sebenarnya banyak investor yang mau masuk ke Indonesia, akan tetapi mereka terkendala harga tanah yang terlalu mahal.

“Ketika mereka ingin mencari lokasi lahan, harga tanahnya sudah ketinggian. Sehingga ketika mereka melakukan studi kelaikan, dinilai tak memungkinkan. Itu menjadi penghalang mereka,” katanya.

Baca Juga: Tidak Ada Perubahan Berarti, Pasar Retail Jakarta Dinilai Stabil

Meskipun di tahun 2018 lalu tidak banyak pertumbuhan yang terjadi di industri properti, akan tetapi menurut Anton ada sinyalemen positif yang ditunjukan dari beberapa sektor.

Berdasarkan pantauan Savills Indonesia, dari rentang tahun 2017 hingga 2018 tingkat permintaan ruang perkantoran di kawasan CBD Jakarta, mengalami peningkatan.

“Walaupun memang secara tingkat kekosongan ruang perkantoran tergolong tinggi, yakni berada dikisaran 24%. Akan tetapi dilihat dari tingkat permintaan telah terjadi rebound,” papar Anton.

Lebih lanjut ia mengatakan, kalau pada tahun 2017 tingkat permintaan ruang perkantoran dibawah 100 ribu meter persegi. Namun di tahun 2018, sudah meningkat menjadi total 150 ribu meter persegi.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda