Relaksasi LTV: Bank BTN Yakin Pertumbuhan Kredit Capai Target

Regulasi terkait LTV memungkinkan konsumen pembeli rumah pertama (first home buyer) membeli hunian tanpa membayar uang muka.

Bank-BTN-kinerja-per-30-Juni-2018-Anto-Erawan-rumahhokie.com
Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com

RumahHokie.com (Jakarta) – Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Bank BTN), Maryono optimistis Bank BTN masih berada pada jalur untuk mencapai target pertumbuhan kredit di atas 20% sampai akhir 2018.

Keyakinan ini disebabkan sejumlah faktor, antara lain kebijakan terbaru Bank Indonesia dalam bentuk relaksasi Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) pada sektor perumahan.

Baca Juga: Semester I-2018, Bank BTN Kucurkan KPR Sebesar Rp38,4 Triliun

“Kebijakan Bank Indonesia tersebut patut diapresiasi, selain memudahkan masyarakat untuk mengakses pembiayaan perumahan, kebijakan ini juga akan memberikan daya dorong bagi Bank BTN untuk dapat lebih agresif dalam menyalurkan kredit perumahan, baik dalam bentuk KPR maupun kredit kepada pengembang,” kata kepada para pewarta di Menara Bank BTN, Jakarta, Rabu (18/7/2018).

Baca Juga: Bank BTN Optimistis Pertumbuhan KPR Capai 20% Tahun Ini

Relaksasi LTV/FTV yang akan efektif pada awal Agustus 2018 ini, imbuhnya, diharapkan dapat berdampak pada ekspansi KPR sektor perbankan tahun ini. Pasalnya, pada 29 Juni 2018 lalu Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Repo Rate dari 4,75% menjadi 5,25%.

“Dampak kenaikan bunga dapat menyebabkan penurunan permintaan KPR secara nasional. Nah, relaksasi jika bisa berimbang, maka akan terjadi stabilisasi pertumbuhan KPR,” tutur Maryono.

DP 0% untuk Pembeli Rumah Pertama
Sebelumnya, pada akhir Juni 2018, BI mengeluarkan regulasi terkait Loan to Value (LTV) yang memungkinkan konsumen pembeli rumah pertama (first home buyer) membeli hunian tanpa membayar uang muka (DP).

Besaran rasio LTV diserahkan kepada manajemen risiko masing-masing bank. Sedangkan untuk rumah kedua dan seterusnya, akan berlaku rasio LTV 80% – 90%, kecuali untuk tipe rumah di bawah 21 meter persegi.

Baca Juga: Inilah Aturan Baru Uang Muka KPR yang Ditetapkan Bank Indonesia

Kebijakan relaksasi ini dilakukan guna menjaga momentum pemulihan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan. Siklus kredit properti ditengarai masih berada pada fase rendah, tetapi berpotensi meningkat bila didukung oleh penyediaan, permintaan, serta kemampuan debitur.

Alasan lain, properti juga dipercaya sebagai sektor dengan efek pengganda (multiplier effect) yang cukup besar terhadap perekonomian nasional.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda