Survei Bank Indonesia: Kenaikan Harga Rumah Terjadi di Semua Tipe

Bank Indonesia mencatat, pertumbuhan penjualan properti residensial pada kuartal I-2018 mengalami perlambatan.

Rumah kelas menengah (Dok. RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Secara tahunan harga properti residensial di kuartal I-2018 terlihat meningkat lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya, dari 3,50% (yoy) menjadi 3,69% (yoy).

Sementara, peningkatan harga properti residensial terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan (35,07%) dan kenaikan upah pekerja (21,21%). Demikian hasil Survei Harga Properti Residensial yang dilakukan Bank Indonesia di Kuartal I-2018.

Baca Juga: Tahun Ini Sektor Properti Indonesia Berikan Sinyal Positif

Secara kuartalan, kenaikan harga properti residensial terjadi pada semua tipe rumah. Kenaikan harga properti residensial tertinggi terjadi pada rumah tipe kecil (2,30%, qtq), diikuti tipe menengah (1,31%, qtq) dan tipe besar (0,64%, qtq).

Sedangkan berdasarkan wilayah, kenaikan harga rumah tertinggi terjadi di kota Surabaya (3,97%, qtq) terutama pada rumah tipe kecil (6,17%, qtq).

Secara tahunan, harga properti residensial juga mengalami kenaikan dari 3,50% (yoy) pada kuartal IV-2017 menjadi 3,69% (yoy).

Potensi Surabaya
Berdasarkan tipe rumah, kenaikan harga rumah terjadi pada semua tipe rumah, terutama rumah tipe kecil (6,07%, yoy). Sementara, berdasarkan wilayah, kenaikan harga rumah tertinggi juga terjadi di Surabaya (7,12%, yoy).

Kenaikan harga rumah di wilayah Surabaya didukung oleh pembangunan berbagai sarana infrastruktur yaitu jalur baru seperti proyek frontage road sisi barat (jalur penyangga di Jalan Ahmad Yani), Middle East Ring Road (MERR) II-C, Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) dan Jalan Lingkar Luar Timur (JLLT).

Baca Juga: Tiga Faktor Pendorong Pertumbuhan Properti Indonesia di 2018

Kenaikan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) sejalan dengan kenaikan indeks harga sub-kelompok biaya tempat tinggal BPS. Kenaikan Indeks harga sub-kelompok biaya tempat tinggal IHK-BPS kuartal I-2018 sebesar 0,63% (qtq), lebih tinggi dibandingkan 0,33% (qtq) pada kuartal sebelumnya, sejalan dengan kenaikan IHPR dalam periode laporan.

Di sisi lain, pertumbuhan penjualan properti residensial pada kuartal I-2018 mengalami perlambatan. Hasil survei BI menunjukkan, pertumbuhan penjualan properti residensial kuartal I-2018 meningkat sebesar 6,85%, meskipun melambat dibandingkan 26,69% (qtq) pada kuartal lalu.

Semua Tipe Rumah
Responden memperkirakan kenaikan harga properti residensial masih akan berlanjut pada kuartal II-2018. Indeks Harga Properti Residensial pada kuartal II-2018 diperkirakan meningkat 0,70% (qtq), atau lebih rendah dibanding 1,42% (qtq) pada kuartal sebelumnya.

Kenaikan harga rumah diperkirakan akan terjadi pada semua tipe rumah, terutama rumah tipe kecil (1,27%, qtq). Sementara berdasarkan wilayah, kenaikan harga rumah tertinggi diperkirakan masih terjadi di Bandar Lampung (4,74%, qtq).

Baca Juga: Mengapa Konsumen Properti Paling Suka KPR?

Pada kuartal II-2018, harga properti residensial diperkirakan naik sebesar 3,20% (yoy), lebih rendah dibandingkan 3,69% (yoy) pada kuartal I-2018.

Berdasarkan tipe bangunan, perlambatan kenaikan harga rumah diperkirakan terjadi pada semua tipe. Sementara itu berdasarkan wilayah, kenaikan harga rumah tertinggi diperkirakan terjadi di Bandar Lampung (9,96%, yoy).

Sebagian besar responden berpendapat bahwa faktor utama yang dapat menghambat pertumbuhan bisnis properti adalah pajak (18,83%), uang muka rumah (16,51%), tingginya suku bunga KPR (16,45%), kenaikan harga bahan bangunan (14,90%), dan perizinan/birokrasi (13,35%).

Sementara itu, berdasarkan lokasi proyek, suku bunga KPR tertinggi terjadi di Gorontalo (12,98%), sedangkan suku bunga KPR terendah terjadi di Jakarta (9,36%).

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda