Tips Beli Saham Perusahaan Properti di Bursa Efek

Membeli saham properti butuh beberapa fundamental berpikir tentang bagaimana harganya naik dan turun. Ada hal yang sangat berpengaruh, berikut beberapa di antaranya.

RumahHokie.com – Ada 51 perusahaan properti yang listing di bursa saham Jakarta. Kinerjanya lumayan bohay dengan volatilitas moderat.

Sejarah mencatat bahwa pernah ada saham properti yg dilibas musnah oleh krisis 1998. Artinya, siapapun yang sedang punya saham itu ya cuma pegang sertifikat saham tak ada harga. Nihil alias kaput.

Nah, jika sebentar lagi BEI melepas batas bawah harga saham, jangan heran kalau nilai saham yang Anda punya juga bisa kaput.

Baca Juga: Kiat Memanfaatkan Isu untuk Pasarkan Produk Properti

Ini bisa terjadi di saham-saham dengan nominal harga yang murah. Penny stock. Pelajari saja, apa di situ ada yang harganya cuma Rp50 – Rp100 per lembar.

Jika ada, siap-siap jadi kaput atau untung besar jika bullish. Main saham ya hanya untung atau buntung.

Membeli saham properti butuh beberapa fundamental berpikir tentang bagaimana harganya naik dan turun. Ada beberapa hal yang sangat berpengaruh, yaitu Earning per Share/EPS atau berapa laba Anda dari kinerja perusahaan.

Lalu kompetisi yield pada berbagai alternatif pasar uang. Kalau obligasi kasih tinggi, saham ditinggal dan harga layu. Apalagi?

Baca Juga: Perlu Diketahui: 8 Kelebihan dan 9 Kekurangan Investasi Properti

Laba dan deviden. Perusahaan lapuk, nggak bisa cetak laba apalagi membagi cuan dari deviden. Kalau untung, uang disimpan untuk berbagai keperluan lanjutan (retained earning) dan sebagiannya dibagikan kepada pemegang saham berupa deviden. Nah, kalau Anda punya saham 1.000 lembar, ya dapat bagian juga.

Saya tidak mau memberi kategori sebagai “investor properti” kepada Anda yang nggak beli real property sebagai aset dan hanya beli derivatif (saham).

Bagi saya, pemain derivatif ya main saham dan bukan main properti, meskipun yang dibeli saham properti. Soalnya beda strategi antara memiliki aset dengan memiliki paper asset.

Baca Juga: Kisah Luna dan Dunia Properti yang Semakin Bisu

Keduanya memang “buy-hold-sell”, tetapi banyak yang beda, misalnya soal legalitas, pajak, liquidity, kolateral, short-long period-nya beda. Pokoknya beda antara manggis dan ular.

Beli properti ibarat bertunangan dan siap nikah, beli saham ibarat pacaran dan siap pisah. Main saham nggak tahu kapan pacaran tiba-tiba ada kabar sudah putus. Tapi pemain properti pacarannya bisa lama.

Memang, kalau lama, sertifikat keburu pindah ke pacar. Jadi, nikahlah lekas-lekas dan saat sertifikat pindah tangan, semua aman. Kan nama isteri ya masih harta bersama. Waspadalah, banyak pria bertekuk lutut di sudut kerling wanita. Cling!

Bersama F. Rach Suherman F. Rach Suherman
Mentor investasi properti nasional ini sebelumnya menjabat CEO di tiga perusahaan properti yang berbasis di Indonesia. Saat ini Suherman juga menjadi dosen dan aktif memberi seminar, pelatihan, dan konsultansi untuk perencanaan dan pemasaran properti.

Bila Anda memiliki pertanyaan, kirimkan ke: redaksi@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda