Two Kinds of Life: Taman, Makam, dan Inovasi Marketing

Semula pemakaman ini sepi. Lalu dibuat strategi memindahkan kerangka orang-orang top, seperti Oscar Wilde sang penyair dan Jim Morrison vokalis The Doors.

Two Kinds of Life: Taman, Makam, dan Inovasi Marketing
Gerbang kompleks pemakaman Père Lachaise, Paris (Foto: Dok. Wikimedia.org)

RumahHokie.com – Tris kecil berlompatan senang di taman dengan air mancur di Central Park, Jakarta Barat. Karena orang hidup butuh suasana indah. Tapi, ternyata orang mati juga lho.

Adelaide Paillards de Viller meninggal di Paris pada usia lima tahun pada zaman Napoleon di taman makam Pere Lachaise. Keduanya gembira di taman: taman bermain dan taman makam. Kalau begitu, kata “taman” itu berkesan positif.

Baca Juga: All Marketers Are Liars: Penjual Bohong atau Bodoh?

Ada Taman Anggrek Mall, Taman Semanan Indah, Taman Palem Lestari, dan Tamansari Sudirman. Memang ada Taman Tekno (kompleks pergudangan BSD), Taman Memorial Graha Sentosa (kuburan mewah), dan Taman Makam Pahlawan (kuburan orang-orang yang berjasa). Kata “taman” memang bikin otak nyaman.

Taman kuburan Pere Lachaise bahkan dikunjungi 1.000 – 2.000 orang per hari. Saat Adelaide kecil dikubur, TPU ini sepi. Lalu dibuat strategi memindahkan kerangka orang-orang top ke sana. Ada Oscar Wilde sang penyair dan Jim Morrison vokalis The Doors.

Kuburan itu jadi indah dan rekreatif. Sekarang, untuk minta dikubur di sana, orang harus antre. Isi daftar tunggu. Ini baru jago marketing. Kuburan disulap dengan nilai jual tinggi.

Baca Juga: Service for Commission: Layakkah untuk Jualan Properti?

Ternyata, tidak hanya strategi marketing untuk orang hidup. Meskipun di California/Anaheim ada Disney Land, tapi Knott Berry Farm hidup juga.

Six Flags Magic Mountain justru jadi sorga para remaja karena mereka bisa jadi Batman dan “diuser-user” ekstrem sampai pening. Di Amerika, Batman itu bisa muntah lho. Kunci dari semua itu adalah inovasi, yaitu proses kreatif yang menjual.

Anda tahu, ada ribuan temuan kreatif yang tidak laku di pasar sehingga tidak sempat diproduksi secara massal. Kreatif doang tanpa jiwa inovasi entrepreneur ya layu sebelum mekar. Puso, alias habis dimakan wereng.

Jadi, inovasi untuk yang hidup ya dipikir dinamika orang hidup. Inovasi untuk kaum almarhum, ya dipikir dinamika orang hidup juga.

Inovasi dibutuhkan manusia hidup, Bro. Yang mati, urusan Tuhan, karena telah disediakan untuknya sorga atas amalannya. Makanya, tobat (total tobat), jangan tomat (tobat tapi kumat).

Bersama F. Rach Suherman F. Rach Suherman
Mentor investasi properti nasional ini sebelumnya menjabat CEO di tiga perusahaan properti yang berbasis di Indonesia. Saat ini Suherman juga menjadi dosen dan aktif memberi seminar, pelatihan, dan konsultansi untuk perencanaan dan pemasaran properti.

Bila Anda memiliki pertanyaan, kirimkan ke: redaksi@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda